Kebermaknaan Ramadhan

Sumber: iuiu.ac.ug

"Dan ketika Ramadhan kembali memberiku senyuman, menggoreskan hari-hari yang indah, dan membuatku kembali merindu Ramadhan...."

Kepergian 2 orang yang paling ku cintai dalam hidupku setelah penciptaku, Rasulku beserta para keluarga sucinya, adalah bapak dan mama. Kepada mereka kuikhlasan apapun yang mereka inginkan aku lakukan, kepada mereka kutitip rindu dan cintaku,dan kepada mereka semua suka kupersembahkan. Berpisah dari mereka membuatku menjadi seorang pemimpi yang menganggap kepergian mereka hanya mimpi dan aku minta untuk dibangunkan agar aku dapat memeluk mereka dengan erat, membuatku seperti kesasar di hutan belantara tanpa kompas dan peta karena kehilangan nasehat dan petuah yang selalu menuntunku, membuatku seperti musafir di gurun Sahara yang menyaksikan banyak fatamorgana yang haus akan kasih dan cinta mereka, dan membuatku menjadi seorang Kahlil Gibran dengan tingkat melakolis yang dalam karena terpisah dari orang-orang terkasih.

Kehilangan mereka dan melaui Ramadhan menjadi kisah tersendiri bagiku. Saat kumandang teriakan pertanda sahur telah tiba menggema, entah mengapa sesuatu nampak menyesakkan dadaku. Gejolak ini sulit ku terjemahkan, ada kenangan indah akan bulan Ramadhan yang penuh berkah bagi siapapun, ada keceriaan anak-anak menyambut bulan seribu bulan ini dengan bunyi petasan, ada suka cita para penjual untuk menjamu tamu yang hendak berbuka, ada senyuman bagi para kaum lemah atas lirikan dan bantuan bagi yang diberi rejeki yang cukup bahkan melimpah dan sudi membagi bagiannya pada orang lain, ada juga kehebohan para ibu dan wanita yang selalu menginginkan menu kompleks demi memuliakan bulan puasa, ada juga untaian cerita dari para ayah dan pria yang memberi uang jajan bulanan ekstra kepada para wanita atau istri mereka, dan bagiku ada kenganan indah, romatis, penuh cinta antara aku, bapak, mama, dan adikku.

Sahur pertama selalu mempunyai nilai histori tersendiri bagi setiap manusia. Sudah menjadi tradisi di keluarga kami jika sahur pertama tiba, semua santapan lezat akan terhidang, masalah tekanan darah yang akan melambung serta kasus kolesterol tiba-tiba hilang dari ingatan. Sahur pertama membuat kami senang, karena aku dan adekku boleh meminta menu santapan kesukaan kami untuk dibuatkan oleh cinta dari tangan mama. Bapak pun tidak lupa selalu memesan menu kesukaannya, gado-gado. Aneka jenis makanan terhidang saat sahur pertama tiba, bagi kami ini salah satu cara kami menyambut bulan ini dengan penuh suka cita. Bulan ini bergelimpangan berkah, kami hanya salah satu keluarga dengan metode berbeda yang menyambut bulan Ramadhan dengan rasa suka dan syukur.

Ramadhan kali ini menjadi bulan puasa tahun 2 tanpa bapak, mama, dan adik. Jika aku mengingat tahun pertama aku berpuasa tanpa mereka sungguh pilu hatiku. Bahkan sempat terlintas dipikiranku akan kerapuhanku, aku mungkin tak sanggup melalui semua ini. Aku adalah tipikal orang yang mungkin bisa melalui penderitaan dengan sedikit orang di sampingku, tapi aku justru akan sangat sedih dan terpukul saat sebuah kebahagiaan ku rasakan namun tanpa kehadiran bapak, mama, dan adikku. Bagiku Ramadhan adalah sesuatu yang menggembirakan, dan jika itu tanpa mereka maka sungguh menyedihkan. Masih jelas teringat betapa tahun pertama puasa ku lalui dengan linangan air mata. Aku tidak sanggup  menerima kebahagiaan ini tanpa mereka. Ramadhan terlalu banyak kisah indah antara bapak, mama, adekku, dan aku. Aku seolah-olah tidak ingin melalui Ramadhan, itu terlalu menyakitkan. Namun, saat ini aku entah mengapa mendapat kekuatan untuk melaluinya, meski tetesan air mata belum sirna dengan sempurna, aku masih terlalu melankolis, dan itu masih manusia.

Ramadhan kali ini justru membuatku semakin kuat. Rasa tidak menerimaku akan kepergian bapak dan mama terbati sudah. Aku menjadi kuat karena aku tahu ada DIA yang akan selalu melindungi orang yang butuh perlindungan sepertiku, ada DIA yang akan selalu menjadi penolong bagi mereka yang tidak memiliki penolong sepertiku, ada DIA yang akan selalu ada tanpa pernah meninggalkanku sekejapku, mungkin justru aku yang selalu meninggalkanNYA dengan berbagai alasan. Entah mengapa Ramadhan kali ini justru membuatku semakin yakin bahwa DIA punya banyak cara yang unik dan aneh untuk menunjukkan betapa sayangnya DIA padaku, kepergian bapak dan mama, berpisah dari adekku, dan beberapa masalah menjadi caraNYA mencintaiku. Semua masalah itu justru menempaku menjadi sesuatu yang lebih berarti. DIA menginginkan aku mendapatkan sesuatu yang istimewa dalam hidup ini, DIA punya banyak cara agar aku mendapat sesuatu itu. Aku selalu teringat tentang bagaimana membuat intan semakin mengkilap dan berharga, intan itu mesti dikikis lagi. Aku juga ingat bagaimana menghasilkan keramik berkualitas tinggi, keramik itu dihancurkan dan dibuat lagi. Pun masih teringat jelas bagaimana membuat alat perang yang tajam, mereka mesti ditempa disuhu yang tinggi.

Allah SWT selalu dan senantiasa mencintai ciptaanNYA, DIA begitu mencintaiku seolah-olah hanya aku saja ciptaanNYA. Namun, terkadang ciptaan justru memiliki tuhan selainNYA...

                    ***

You Might Also Like

0 komentar