Sang Bintang, Populer Atau Terpenjara

Topeng monyet, panorama antara keceriaan masa kanak-kanak, eksploitasi terhadap binatang, salah satu sumber mata pencaharian, dan pemandangan langkah kini. Pertunjukkan ini sudah sulit ditemukan di lorong-lorong kompleks perumahan, di pinggir jalan, di dekat sekolah atau pun di dekat pasar tradisional. Kini lorong-lorong kompleks perumahan dihiasi dengan kegembiraan odong-odong, bagi kompleks yang masih mengenal arti penting berbaur antar tetangga.


Pinggir jalan terkadang kosong dengan alasan kenyaman bagi pejalan kaki juga bagi para pengendara. Sekolah kini dipenuhi dengan keceriaan dari permainan sejenis play station dengan berjamurnya tempat bermain game jenis ini dengan harga bersaing, game on line atau mengakses berbagai jejaring sosial bagi yang menyediakan layanan internet. Pasar traditional sudah tidak menyediakan tempat bagi si monyet memberikan aksinya.

Berbagai reaksi ditemui saat sang monyet bxeraksi di depan anak-anak. Bagi anak-anak dengan rasa ingin tahu pasti akan menganggap sang monyet sebagai objek eksperimennya, mereka tidak bosan-bosannya melihat setiap gerak-gerik si bintang panggung, mereka akan fokus pada si monyet, apalagi jika itu pengalaman pertama si anak melihat si monyet menjalankan profesinya.

Bagi anak-anak yang ceria, terkadang aktraksi sekecil apapun yang dipersembahkan si monyet mampu melukiskan senyum indah bahkan derai tawa yang menggemaskan. Namun, lain halnya dengan anak-anak yang penakut, tidak jarang dari mereka ketika melihat si monyet berjalan ke arahnya, mereka langsung berlari memeluk orang tua mereka bahkan dengan jelas memperlihatkan perasaan mereka dengan tetesan air mata.
Sumber : id.wikipedia.com

Topeng monyet bukanlah pementasan seekor monyet menggunakan topeng, lebih dari itu beragam aktraksi ditampilkan dengan setidaknya 2 orang dengan masing-masing job mendampingi si monyet. Seorang akan bertugas memainkan alat musik memberi kesan tersendiri bahwa alunan musik ini hanya milik si monyet, lantunan irama ini menjadi ciri khas dari aktraksi topeng monyet hingga tak sulit mengidentifikasinya, cukup mendengar iramanya anda sudah yakin bahwa aktraksi itu menampilkan makhluk yang menurut Charles Darwin adalah nenek moyang manusia dan seorang lagi nampaknya tampil sebagai sang pawang, memerintahkan sang bintang panggung beraktraksi sesuai dengan arahannya. Melompat, menari, menggunakan payung, mengendarai motor, becak, bahkan skuter merupakan rutinitas sang bintang di panggung. 

Sang bintang panggung dituntut menampilkan pertunjukkan yang memuaskan mata penonton. Meski dari sekian banyak penonton sudah pasti mengetahui rentetan aktraksi yang akan ditampilkan si monyet, tapi selalu ada keceriaan tersendiri jika melihatnya mempertunjukkan kebolehannya. Namun, aktraksi itu terkadang dinodai oleh kearoganan sang pawang terhadap kelihaian sang bintang.

Sang pawang yang merasa penampilan si bintang kurang bagus atau melihat sumber pencahariannya itu ogah-ogahan di depan penonton akan segera menarik tali yang dipegangnya, dimana tali itu terikat pada sebuah lingkaran besi yang disematkan pada leher si monyet sehingga jika tali ditarik maka besi yang bertengger di lehernya pun akan memberi kesan tercekik dan sang bintang pun akan melanjutkan aktraksinya dengan penuh tekanan.
Dilihat dari sisi manapun tindakan yang dilakukan sang pawang sungguh tidak manusiawi. Meski tali yang digunakannya tentu saja multifungsi, seperti mengawasi si monyet agar tidak bertingkah di luar kendalinya mengingat si monyet adalah sumber uang baginya, mengikatnya agar tidak lari, dan mengendalikannya agar tidak menyerang orang lain, apapun alasannya tetap saja menarik tali itu akan menyakiti sang monyet.

Bervariasinya jenis pertunjukkan yang kita temui di pinggir jalan, pinggir pantai, di atas kendaraan umum, atau di rumah makan dengan tingkat keamanan non-hotel berbintang, salah satunya adalah topeng monyet. Tidak bisa dipungkiri kelangkaan pertunjukkan topeng monyet sangat terlihat jelas, meski pun menjadi sumber mata pencaharian bagi sebagian orang.

Di satu sisi kelangkaan aktraksi ini menjadi indikasi bahwa jumlah pekerja yang mendulang uang lewat tingkah laku si monyet menjadi lebih sedikit, dalam artian persaingan antar pekerja pun berkurang. Namun, ketertarikan atau tingkat minat para penonton juga menjadi faktor berkurangnya jumlah para pekerja di bidang itu.

Topeng monyet di satu sisi memperlihatkan kelihaian seekor monyet yang terlatih dan profesional pun juga mengeksploitasi si monyet.

You Might Also Like

0 komentar