Perbedaan Itu Hanya Ada Di Selangkangan

Sumber : tipscintaku.com
"Aku ini seorang wanita. Tidak sedikit yang menganggapku lemah bahkan memperdayaiku. Perlakuan mereka sungguh membuatku jijik, karena tidak sedikit dari mereka yang selalu menomorduakan aku, hanya karena aku memiliki vagina. Apa mereka pernah merasakan kepedihan ini? Apa mereka pernah meluangkan sedikit waktunya dan menggunakan otaknya, mencoba merenungi bagaimana jika mereka yang menjadi seorang wanita?"


Pria, bahkan beberapa dari mereka sepakat mencetuskan penyakit tertentu agar kami, wanita  terbiasa dengan kearogansian mereka. Mereka sepakat menyatakan betapa wanita adalah makhluk yang diciptakan untuk menerima rasa sakit, mempengaruhi kesadaran kami, membuat kami seolah-olah lahir hanya untuk menerima perbuatan mereka. Sungguh, mereka seakan-akan sangat cerdas dan tercetuslah SDP, sebuah penyakit yang lahir atas obyektifitas kaum adam, berharap penyakit itu menjadi alat pembenaran mereka bagi kami, wanita.

Pun bahkan banyak lahir mitos dengan berbagai versi entah dengan latar belakang kultur atau pun letak geografis, seakan mencoba menguatkan alasan wanita agar tetap di posisi mereka, disudutkan. Di daerah Bugis-Makasar misalnya, adanya kepercayaan kuat agar wanita yang sedang menstruasi agar tidak ikut serta dalam proses pembuatan tape (sejenis cemilan berbahan ubi kayu atau beras ketan yang mengalami fermentasi dengan menggunakan ragi), jika sampai hal itu terjadi akibatnya tape yang dibuat akan terasa kecut.

Ada juga yang berpendapat agar wanita yang menstruasi tidak menyentuh daun sup yang berada dalam pot (dalam proses kembang biak), jika sang wanita melakukannya akibatnya tumbuhan itu akan layu dan mati. Belum lagi di sebuah daerah yang mengurung para wanita jika sedang haid, mereka disuruh memisahkan diri dengan para pria dan wanita yang lain. Mereka yang sedang menstruasi akan disekap pada sebuah rumah, dimana disitu hanya akan dihuni bagi para wanita haid, mereka akan diperbolehkan kembali berbaur dengan yang lainnya jika masa menstruasi mereka telah berakhir, hal ini terjadi karena adanya anggapan bahwa para wanita yang sedang haid, jika berbaur dengan masyarakat akan membawa bibit penyakit atau bencana.

Dapat dilihat penindasan terhadap wanita di era sekarang cukup bervariasi, sungguh berbeda jika kita melihat wanita pada beberapa puluh tahun lalu. Para wanita dahulu dipigit agar tidak ambil bagian dalam proses pencerdasan manusia. Wanita tidak hanya dinomor duakan dalam upaya meningkatkan kualitas dirinya, bahkan hak itu dirampas darinya.

Beberapa tahun kemudian metodenya berubah, wanita diperkenalkan pada pandangan betapa tidak pentingnya meningkatkan kualitas dirinya karena pada akhirnya wanita hanya bergelut di dapur, kasur, dan sumur, di mana para penindas ini begitu yakin dalam melaksanakan tugasnya sebagai wanita tidak satu pun dari tempat itu, kasur, dapur maupun sumur memerlukan wanita dengan kemampuan intelektual yang baik, dan tidak sedikit wanita membiarkan dogma itu lolos di critical area mereka, sehingga tertanam di alam bawah sadarnya dan menyakininya sebagai sebuah kebenaran.

Wanita dan kecantikan bak dua sisi mata uang tak terpisahkan, ini ekuivalen dengan bunga dan keindahan, malam dan bulan, pantai dan pasir, bibir seksi dan hasrat berciuman, serta anak bayi montok dan keinginan ingin mencubitnya. Tidak satu pun dari wanita sudi tidak disematkan kata tidak cantik, cantik merupakan kata ampuh meluluhkan tidak sedikit wanita. Cantik juga dipandang sebagai sebuah kebutuhan mutlak yang dimiliki seorang wanita, mengingat betapa banyak peluang pekerjaan yang menyematkan kondisi  'berpenampilan menarik' menjadi salah satu syarat yang terkesan klise namun menjadi poin pertimbangan yang sangat menentukan.

Cantik juga bisa menjadi senjata mematikan wanita dalam menumbangkan lawannya, para pria. Salah satunya dapat disaksikan dalam sebuah film berjudul Red Cliff, tergambar dengan jelas Cao Cao yang memiliki pasukan dengan jumlah yang sangat banyak, persenjataan terbaik, armada laut tangguh, dan keahlian yang profesional pada akhirnya kalah hanya karena jamuan teh oleh seorang wanita yang begitu dicintainya sekian lama, wanita cantik dan anggun.

Pun begitu banyak jalan menjadi cantik ditawarkan sekarang, mulai dari cara traditional yang memakan tidak sedikit waktu, perlu ketelatenan dan kesabaran, namun dijamin sangat alami dan tidak memiliki efek samping. Cara instan pun ditawarkan, mulai dari harga yang merakyat hingga harga tingkat dewa. Munculnya pelbagai produk kosmetik dianggap sebagai salah satu jalan yang diberikan kepada wanita untuk dapat mengapresiasikan diri hingga tak jarang kecantikan tampil menjadi sang bintang dalam setiap diskusi, selingan saat arisan, celoteh saat berbelanja sayur mayur, atau bahkan di seminar. Menjadi cantik tidaklah salah, siapa yang tidak ingin menjadi cantik.

Namun, di satu sisi tampaknya upaya mengesampingkan peningkatan kualitas wanita melalui peningkatan intelektual nampaknya berhasil, betapa tidak dalam jumlah yang tidak sedikit wanita berlomba-lomba tampak cantik dan meninggalkan keunggulan utamanya, menjadi cerdas. Sadarkah wanita bahwa kecerdasan menjadi jalan tol dalam menggagahi para pria. Pria akan merasa kalah telak jika menghadapi wanita cerdas dan inilah bentuk penjajahan baru.

Begitu banyak potensi yang dimiliki wanita menjadi hal yang patut diperhitungkan oleh pria, tidak sedikit dari mereka yang menyadari betapa powerfull-nya seorang wanita jika dia mau memperlihatkan. Ratu Elizabeth I misalnya, wanita pertama yang berhasil menghancurkan tembok yang tersusun dari kearogansian, keangkuhan, politik para pria. Ratu Elizabeth sadar akan potensi yang dimilikinya, hal ini yang mengantar dirinya mampu menghadirkan masa kejayaan di Inggris, baik dalam kemakmuran di bidang ekonomi, perkembangan kesusastraan, bahkan Inggris akhirnya lahir menempati posisi nomor satu armada laut yang paling kuat. Hal ini jugalah yang membuat Ratu Elizabeth I tercatat di buku 100 Tokoh Paling Berpengaruh Dalam Sejarah karya Michael H. Hart, dia menempati posisi ke-95.

Tokoh wanita nasional yang kita miliki pun tak kalah bersaing. Siapa yang tidak mengenal Raden Ajeng Kartini. Wanita berdarah bangsawan ini sangat banyak memberikan sumbangsih bagi perkembangan wanita di Indonesia. Kecerdasannya yang mampu membuatnya terlepas dari pingitan paradigma masyarakat luas pada waktu itu mengantarnya menjadi salah satu ikon kebangkitan wanita. Belum lagi dengan pahlawan nasional kita, Cut Nyak Dien. Wanita ini tampak gagah perkasa dalam setiap pertandingannya, hasratnya melihat tanah airnya merdeka tidak hanya bergema di otaknya saja, dia mampu menularkan pada orang-orang di sekitarnya.

Banyak juga wanita super yang bertebaran di tanah air ini, sekarang pahlawan tidak hanya ada di medan perang, menunggangi seekor kuda, dan memegang senjata. Perlbagai pekerjaan yang nisbahkan kepada pria saat ini justru membuat tidak sedikit wanita ingin mencobanya. Tukang becak, supir angkot, supir taksi, kenek angkot, tukang ojek, dan kuli bangunan pun mulai dijamah para wanita. Kekuatan dalam diri mereka menghantarkan mereka lahir menjadi pribadi yang kuat dan tangguh. Pun di dalam kantor-kantor sudah banyak dijumpai para wanita, bukankah para wanita memberi kesan tersendiri ketika ada di sebuah tempat yang hanya diisi oleh segerombolan pria?

Ketika wanita berani selangkah lebih maju, keluar dari penindasan, dan meninggalkan keterbelakangan, hal ini sungguh sangat mengusik sebagian pria dengan tingkat ego yang tinggi. Sungguh berbeda jika pria yang ada di samping seorang wanita adalah pria yang memandang wanita itu memiliki potensi yang sama dengannya, saling memberi peluang dalam proses pengembangan diri, saling mendukung menjadi yang terbaik, menjadi partner yang baik dalam membangun kehidupan berumah tangga. Pria seperti ini tidak menganggap wanita sebagai saingannya melainkan rekan yang tepat dalam menjalani kehidupan ini. Pria ini sadar tidak ada perbedaan antara dirinya dan wanita, perbedaan itu hanya ada di antara selangakangan  kita, tidak lebih!

You Might Also Like

0 komentar