Ku Ingin Kau Tahu

Sumber: musthofa-zone.blogspot.com
Pemberitaan tentang dampak buruk facebook, salah satu jejaring sosial terus saja terekspos di pelbagai media, baik media cetak mau pun elektrik. Kenapa alat selalu saja disalahkan padahal pengguna alat itulah yang salah menggunakan alat itu, guman Panji dalam hati.



Jengkel juga melihat beberapa media tampaknya sudah tidak melaksanakan tugas mereka memediasi berita kepada masyarakat dengan baik, sungguh terdengar miris melihat media yang memihak sekelompok atau produk tertentu, kalau membahas sebuah objek dan melihat dari sisi baik dan buruk sih tidak apa-apa dan seharusnya mereka mampu bersikap netral, ya di situlah posisi mereka, lanjut Panji lagi selintas melihat salah satu program berita pagi di televisi 21 inchi yang terletak tepat di depan pintu kamarnya.

“Panji juga punya akun di facebook-kan? Hati-hati yah, jangan sampe kejadian di televisi terjadi,” ujar Mama Panji.

“Ma, kebanyakan dari korbannya tuh cewek ma, bukan cowok. Jadi mama nggak usah khawatir Panji kenapa-kenapa yach,” balas Panji.

“Kalo nggak jadi korban, janji yach nggak jadi pelakunya,” goda Mamanya.

Panji hanya tersenyum merespon godaan mamanya. Kedua ibu dan anak ini mengawali hari mereka dengan kehangatan sebuah keluarga.

"Dah mau berangkat kampus yah?" tanya mama Panji yang semakin tampak cantik saja meski usianya sudah tak semuda dulu.

"Iya, Ma," jawab Panji singkat sambil mengikat tali sepatunya.

"Nggak sarapan dulu sayang?" pertanyaan kedua meluncur dari mulut mamanya penuh kasih.

"Udah telat nih, ntar aja kalo dah sampe di kampus. Pergi dulu yah Ma," ujar Panji lalu menyambar tangan mamanya dan menciumnya. Perasaan takut terlambat membuat Panji dengan sigap memacu motor meninggalkan rumah, maklum saja dosen matakuliah pagi ini cukup terkenal killer, salah sedikit saja ancaman nilai error terlontar enteng dari mulutnya.

***

"Dapat kenalan baru lagi Put?" tanya Dinda, teman sekelas Putri. Dinda dan Putri, dua sahabat lama, perkenalan mereka bermula dari awal penerimaan di salah satu smp negeri terbaik di Makassar hingga kini, saat mereka sudah menginjak tahun kedua di sma impian mereka.

"Iya nih, sepertinya anaknya baik deh," jawab Putri. Jari-jemarinya yang indah tak henti menari-nari di atas keyboard laptopnya, terus merespon message di chat room facebooknya.

"Cowok, boleh tuh," ujar Dinda sambil senyum memamerkan deretan giginya yang putih bersih.

"Iya cowok, ngakunya sih dah kuliah, namanya Panji," jelas Putri tanpa memalingkan wajahnya dari layar laptop 12 inchinya.

"Ehm," ganggu Dinda.

"Batuk neng, minum obat gih," canda Putri.

Dinda hanya tertawa mendengar perkataan sahabatnya satu-satunya itu. Dinda tahu Putri tipikal cewek yang setia terhadap pacarnya, meski tidak sedikit teman pria di kelas mereka jatuh hati pada Putri, tidak terkecuali juga kakak kelasnya sewaktu Putri dan Dinda masih menjadi siswa baru.

***

"Nggak usah Nji, nggak papa kok, biar tunggu pagi aja baru nyari makan," ujar Putri menolak tawaran Panji, padahal perut Putri sudah keroncongan.

"Nggak usah gimana? Dari pada ntar sakit," ucap Panji.

"Sumpah, nggak usah deh Nji, dah jam 1 malam nih,"
balas Putri kembali menolak sekali lagi.

"Iya sih dah malam tapi kalo perutnya tetap dibiarkan kosong takutnya sakit, serius. Lagian nggak ada orang-orang di rumahmu yang bisa beliin kamu makanan,"

"Ngak usah yah," potong Putri tidak merasa tidak enak merepotkan Panji.

"Saya nggak masuk deh di rumahmu, cukup tunggu saya saja di teras biar makanannya langsung kamu ambil, sudah itu aku langsung pulang. Tau deh nggak enak bertamu malam-malam tapi nggak bisa dengar kamu belum makan," jelas Panji panjang lebar. Putri pun setuju dengan tawaran Panji mengingat apa yang dikatakan Panji ada benarnya juga.

Dini hari itu menjadi hari yang paling diingat Panji, akhirnya Putri bertemu langsung dengannya, pertemuan mereka yang hanya berlangsung di dunia maya kini nyata. Entah mengapa ada desiran di hati Panji sejak saat itu, mesti dirinya tahu Putri sudah memiliki kekasih tetapi desiran ini terjadi begitu saja. Pertemuan itu juga menjadi batu pertama pertemanan di antara Panji dan Putri.

***

"Kamu mau pindah ke Jakarta?" tanya Panji dengan segudang rasa kecewa yang menyesakkan dadanya.

"Iya, aku berencana melanjutkan sekolah di sana, papa ku dipindah tugaskan ke Jakarta, aku berangkat jam 8 pagi besok," jawab Putri disela-sela kesibukannya mencari sebuah novel teenlit yang baru dibelinya untuk diberikan ke Dinda. Barang-barangnya sudah dikirim seminggu lalu ke Jakarta, Putri hanya tinggal membawa dirinya ke Jakarta.

"Mang Panji belum tau yah?" tanya Dinda.

"Taunya sih sekarang, itu pun barusan Putri bilangkan?" ujar Panji, kekecewaan masih saja memenuhi dadanya, kini juga pikirannya.

"Tenang kok Nji, kita masih bisa komunikasi via facebook atau smsan kok," ucap Putri.

"Kok baru bilang sekarang Put?" Panji tiba-tiba meminta penjelasan.

Putri hanya tersenyum, Panji hanya diam, bukan senyuman yang diharapkan Panji tetapi jawaban. Tidak hanya itu, Panji juga mengharap waktu yang lebih banyak lagi untuk mengungkapkan sesuatu ke Putri. Sesuatu yang selama ini meronta-ronta di hatinya, sesuatu yang sudah tidak cukup dipendamnya, sesuatu yang dirasakan sejak pertemuan pertamanya dengan Putri, sebuah desiran yang kini berubah menjadi sebuah rasa, rasa yang umum dialami seorang pria terhadap wanita.

"Ini novelnya, udah ambil aja, aku dah baca kok, sekalian kenang-kenangan buat Dinda," ujar Putri membuyarkan lamunan Panji.

Tiba-tiba handphone Panji berdering. Tidak di saat seperti ini ujar Panji dalam hati. Nama mamanya terpajang di layar monitor handphonenya. Panji segera memberi tanda akan menerima panggilan di teleponnya kepada Putri dan Dinda sembari meninggalkan mereka berdua di ruang tamu Putri. Entah dengan alasan apa, Panji seketika tanpa pamit langsung meninggalkan Putri dan Dinda.

***

Hari ini tepat pukul 8 pagi pesawat yang ditumpangi Putri lepas landas meninggalkan kota Daeng. Hari ini pun Panji tidak bisa mengantar Putri, bukan karena kekecewaanya tapi karena neneknya sedang sakit dan Panji merupakan cucu emas neneknya, tentunya tidak ada alasan meninggalkan neneknya dalam kondisi tidak sehat seperti ini.

Panji hanya bisa menyimpan rasa itu, andaikan Putri memberinya waktu sehari saja mungkin rasa itu akan diungkapkannya. Komunikasi melalui jejaring sosial atau via phone seperti tidak memberinya ruang untuk menjelaskan rasa ini.

Andai Putri tahu tentang rasa ini, ujarnya dalam hati.

Kekecewaan terus saja menyelimuti hatinya pun juga dengan kekahawatiran akan kondisi neneknya. Panji tahu sekalipun mengungkapkannya bukan sesuatu yang baik, ada juga kemungkinan Putri akan marah atau kecewa dengan ungkapan perasaan Panji mengingat posisi Putri yang tidak single lagi. Tidak, Panji tidak ingin menyakiti hati Putri maupun kekasih Putri, pun tidak ingin merebut Putri dari kekasihnya. Panji hanya ingin memberi tahu tentang makna spesial Putri di hatinya.

***

You Might Also Like

0 komentar