Tidak Denganku

Sumber: princessjersidd.blogspot.com
Ku buka album biru
Penuh debu dan lusuh
Ku pandangi semua gambar diri
Kecil mungil belum ternoda


Aduh kok lagu ini lagi sih, gerutuku sambil membiarkan jemariku menyetel frekuensi radio di depanku sambil berharap lagu itu tidakku dengar lagi.


"Lho channelnya kok diganti sih kak?,"
tanya Sinta, adikku satu-satunya.

"Lagunya jelek," ujarku singkat, mengindahkannya sambil terus sibuk memutar tombol tuning radioku, terus
mencari lagu yang tepat dengan moodku saat ini yang langsung saja berubah setelah mendengar lagi itu.

"Padahal Sinta kan suka lagunya," ujarnya manja.

Aku hanya menatap Sinta dengan wajah datar, reaksi yang sama saat Sinta atau orang-orang di sekitarku menyebut namamu atau membicarakan sesuatu yang ada kaitannya dengan dirimu. Entah mengapa kenangan masa kecilku kembali menghampiri pikiranku. Kenangan bagaimaa kau memperlakukanku jauh berbeda dengan Sinta. Kau yang selalu menunggu Sinta saat dia pergi ke sekolah atau hanya bermain boneka dengan teman-temannya di rumah sebelah, kau yang senantiasa khawatir kala Sinta pergi tanpa sempat pamit padamu, kau yang selalu bersedia memeluk Sinta saat sia ingin dipeluk atau hanya karena udara dingin mulai memenuhi ruang tidur Sinta.

Kenangan itu begitu menyakitkan bagku, tapi mungkin tidak bagimu. Kau yang tak pernah sekalipun duduk di sofa hitam saat aku berjalan memasuki ruang tamu jika habis bepergian, tempat yang selalu kau gunakan saat menunggu Sinta. Kau yang tak pernah menghubingi handphoneku meski langit telah berwarna hitam, dan kau pun tak pernah menyentuhku meskin dinginnya malam membuatku mengigil.

Atas kenangan itu pertanyaan demi pertanyaan satu per satu bermunculan di benakku. Apa salahku? Mengapa kau bersikap demikian padaku? Adakah kau menganggap diriku menjadi bagian dari hidupmu? Kenapa hal ini terjadi padaku? Kau pun sepertinya tahu pertanyaan itu pada akhirnya akan kuutarakan dan kau pun sudah menyiapkan jawabanmu. Jawabanmu hanya satu untuk semua pertanyaanku padamu saat itu, "Sinta itu adikmu, dia masih kecil, dia belum bisa berbuat apapun tanpaku."

Tapi jawaban itu seolah mempertegas jurang pemisah antara aku dan Sinta, lebih tepatnya kau yang membuat jurang itu di antara kami. Aku mungkin akan memakluminya karena Sinta memang masih kecil saat itu tapi tidak sekarang. Sinta sudah cukup dewasa dengan hadirnya buah cinta pertamanya hasil pernikahannya dengan Andi. Kali ini saat pertanyaan itu aku ajukan kembali padamu, jawabanmu masih saja tetap sama.

Sinta dan orang-orang di sekitarku mungkin menganggap aku telah hidup baik, tenang dan senang tapi tidak bagiku. Aku selalu hidup dalam bayang-bayang masa laluku tentangmu. Aku yang tak pernah ada untukmu meskipun banyak hal telah kulakukan untukmu. Bagimu Sintalah segalanya dan bagiku kau bukan segalanya. Mereka boleh saja menyintaimu, termasuk ayah dan Sinta tapi tidak denganku.

You Might Also Like

0 komentar