Kebiasaan Atau Keselamatan

Ketika berkendaraan sebaiknya anda mengfungsikan segala perlengkapan kendaraan anda jika dibutuhkan, jangan berkendara dengan menggunakan kebiasaan atau perasaan anda, "Saya udah biasa kok berkendara seperti ini" atau "Kalau mengendarai motor atau mobil kamu pake feeling aja".

Tunggu dulu, ketika anda berkendara di jalan raya, anda tidak menjadi satu-satunya pengguna jalan tersebut, begitu banyak kendaraan dengan berbagai jenis dan berbagai merek juga menjadi pengguna jalan tersebut, belum lagi para pejalan kaki.


Kita tidak bisa dengan begitu egois ingin menguasai jalan tersebut, apapun alasan anda, mulai dari alasan terburu-buru, takut telat atau memang anda bukan orang yang sabaran. Namun, lain halnya jika kita berpapasan dengan mobil ambulance atau pemadam kebaran.

Dalam berlalu lintas kita juga harus mematuhi aturan-aturan yang ada, bahkan untuk hal-hal yang biasa kita anggap sepele, seperti; menyalakan lampu weser misalnya. Kita semua tahu secara pasti guna dari lampu weser dan saya yakin saya tidak perlu membahasnya lebih lanjut.

Kebiasaan tersebut bisa saja merugikan orang lain dan juga diri kita sendiri, kita tahu betapa pentingnya menjalin komunikasi dengan para pengguna jalan saat kita berkendara agar tidak terjadi kecelakaan, ini di luar dari konteks tentang takdir.

Sebuah peristiwa yang saya alami mungkin bisa menjadi bahan pertimbangan atau pengalaman untuk kita semua. Peristwa tepatnya saat hari raya idul adha, saya dan mama hendak pergi berkunjung ke rumah oom di Antang, dengan pertimbangan efisiensi waktu maka saya dan mama sepakat memilih bentor sebagai alat transportasi saat itu, tapi tidak ada penekanan bahwa kami terburu-buru hanya saja jika menggunakan angkot akan memakan waktu yang cukup lama. Setelah mama selesai bernegosiasi mengenai tarif, maka dengan segera kami pun berangkat dengan bentor tersebut.

Sepuluh menit kami dalam perjalanan terasa jalanan cukup sepi saat itu, saya yang asyik berbicara dengan mama tiba-tiba kaget dengan suara hantaman di sisi kanan bentor yang sedang melaju, bentor yang kami tumpangi terbalik sehingga mama sempat terseret hingga lututnya terluka, kalau saya jangan ditanya, persendian tangan terasa begitu sakit.

Kecelakaan itu tentu saya mengundang perhatian orang-orang di sekitar TKP, ada beberapa orang yang membantu mama saya berdiri, ada juga yang membantu saya, dan juga menolong sang pengendara bentor kami. Tiba-tiba seorang pria yang tak lain adalah pemilik kendaraan yang menyerempet bentor yang kami tumpangi dengan santainya berbicara kepada sang pengendara bentor.

Pemilik mobil: "Kau bagaimana sih. Saya kan sudah nyata-nyata mau belok kiri."

Pengendara bentor: "Iya, pak. Tapi Bapak tadi tidak menyalakan lampu weser Bapak. Jadi saya kira Bapak tidak ingin belok kiri."

Pemilik mobil: "Wah, SAYA SUDAH BERTAHUN-TAHUN TINGGAL DI SINI TIDAK PERNAH MENYALAKAN WESER SAYA KALAU MAU BELOK DI SINI."

Waduh, bukannya minta maaf atau apa, malah berujar seperti itu. Miris saya mendengarnya. Andaikan ini hanya sebuah mimpi, namun nyatanya saya tidak sedang bermimpi, it's true. Apa bapak itu pernah berfikir seandainya dia yang berada diposisi saya dan mama saat ini atau bagaimana jika salah satu anggota keluarganya yang diserempet dengan alasan 'sudah terbiasa' berkendara seperti itu?

Belum lagi jika korbannya mengalami luka yang parah, masalah lain yang timbul adanya kerugian jika kendaraan tersebut mengalami kerusakan. Kita sama-sama mengetahui kecelakaan lalu-lintas tidaklah membawa efek positif bagi pelaku maupun korbannya.

Lantas masihkah Anda suka menukar kebiasaan Anda dengan keselamatan orang lain??

You Might Also Like

0 komentar