Jangan Utarakan Dengan Kekerasan


Sumber : edukasi.kompasiana.com
Jika kebebasan paling asasi saja telah direnggut, maka hilang sudahlah kebebasannya. Nampaknya penduduk bangsa ini mesti berduka sedalam-dalamnya karena 'kebebasan' telah meninggalkan kita.
  
Ketidakseragaman persepsi bisa saja terjadi, keberagaman pemikiran bisa saja terjadi, fatanisme terhadap sesuatu bisa saja terjadi, dan aksi kekerasan pun bisa saja terjadi. Ketidakseragaman, keberagaman, fatanisme menjadi hal yang mesti dimaklumi, namun tidak dengan aksi kekerasan.

Seyogyanya kita mesti menyikapi keberagaman menjadi sesuatu yang biasa saja, mengingat berbagai latar belakang budaya, agama, paradigma, strata sosial, tingkat pendidikan, dan faktor lain yang menunjang. Keberagaman bisa kita jadikan jalan untuk menambah khasanah pengetahuan kita. Jangan terburu-buru menutup mata, hati, dan telingan anda. Tidak ada salahnya memberi kesempatan orang lain yang berbeda dengan kita mengutarakan hal yang 'mebedakan' antara kita. Tidaklah bijak mengklaim sesuatu tanpa anda telusuri dulu sebelumnya. Cobalah bertindak ilmiah....

"Perbedaan adalah rahmat", it's true. Banyak hal yang kita temui dengan adanya perbedaan. Pelangi tentu saja takkan indah jika hanya memiliki warna hijau saja. Tidak bisakah kita menghargai perbedaan itu? Bagaimana jika anda berada pada kondisi seperti itu, dianggap berbeda, apa yang anda lakukan? Tentu saja anda akan membela pilihan anda, tentu saja anda akan bilang kalau anda juga benar. Itulah yang mereka--kelompok tertentu, lakukan. Membela pilihan mereka dan merasa benar dengan pilihannya.

Setiap agama mengajarkan pemeluknya untuk menebar cinta, saling berkasih-sayang, menghargai segala bentuk perbedaan, dan saling menerima antar satu dan lainnya. Agama seharusnya menjadi jalan pemersatu, karena semua agama hanya bertujuan pada satu muara: cinta. Mulai dari Nabi Muhammad SAW yang mengajarkan kaum muslimin agar mau menyayangi saudaranya sebagaimana menyayangi dirinya sendiri, Yesus Kristus yang mengajarkan agar saling memberi kasih antar sesama manusia, sampai Buddha yang melalui perjalanan kehidupannya dengan misi kemanusiaan atas dasar cinta. Lantas bagaimana dengan mereka yang beragama namun tidak menebar cinta?

Agama menjadi hal yang paling mendasar pada setiap insan, agama menjadi hal paling asasi. Kebebasan memilih, meyakini, dan melaksanakan agama tertentu dijamin di negara ini. Layaknya sebagai seorang penduduk yang berada dalam aturan undang-undang negara, semestinya kita menaati hukum atau aturan tersebut, bukan sebaliknya. Bukankah ini negara hukum, bukan hutan belantara yang bisa saja kita berbuat seenaknya. Lagi pula tidak sedikit dari penduduk kita yang telah merasakan bangku pendidikan, mestinya mereka lebih lapang dada menerima keragaman ini dan lebih berhati-hati dalam bersikap, layaknya orang berpendidikan.

Jikalau ditinjau dari sisi kemanusiaan, apakah cukup manusiawi menghardik mereka yang berbeda, bahkan mengakibatkan tewasnya beberapa orang??

You Might Also Like

0 komentar