Perempuanmu

Bayang-bayang dirimu senantiasa menghantui diriku seolah tak rela melepaskan diriku, atau mungkin aku yang belum bisa merelakan kepergianmu. Bayang-bayangmu selalu terlintas di benakku memenuhi setiap sel otakku, suaramu tak henti melewati rongga telingaku sampai ke rumah keong, aroma tubuhmu menelisik masuk melalui lubang hidungku bersamaan dengan oksigen-oksigen yang kuhirup, berbaur menjadi satu sehingga sulit untuk membedakannya.

Kulitku senantiasa merasakan lembutnya sentuhanmu, begitu hangat dan penuh cinta. Kecupanmu di setiap keberhasilan  dan kebahagiaan yang kuraih masih berbekas di keningku, seolah baru beberapa menit yang lalu kau mengecupnya.



Kini hari-hari meski kulalui tanpamu, kesulitan begitu terasa menyiksa diriku tanpa dirimu di sisiku. Namun, kebahagiaan juga terasa hampa jika hanya kulalui sendiri. Hari demi hari kulalui bak rutinitas yang menjenuhkan, bangun pagi, selanjutnya beraktivitas seperti yang telah kulakukan sebelumnya hingga letih memisahkan jasad dan ruhku.

Tak ada lagi sapaan hangat darimu di setiap pagi saat mataku terbuka mengawali hari-hariku, tak ada lagi pelukan mesra darimu, senyuman yang indah, canda tawa yang selalu kita lalui bersama saat dirimu tahu aku sedang sedih, hadiah-hadiah yang selalu mengejutkanku, semua itu  kini tak ada lagi dan takkan pernah aku lalui lagi bersamamu.

Hari ini kuputuskan membuka kitab suci kita berdua, beberapa diary yang berisi tentang kisah kita, tentang kenangan yang selama ini kita lalui bersama, tentang semua moment yang kita lalui berdua. Sumpah, aku takkan pernah bosan membacanya. Lembar demi lembar kubaca dengan penuh arti, tak terlewatkan satu kata pun, bagiku untaian kalimat demi kalimat itu terlalu berharga untuk kusia-siakan.

 Aku tak ingin kisah kita berakhir tragis di tong sampah, berbaur dengan barang rongsokan, tumpukan kertas usang dan sobek, nasi basi, kulit buah-buahan, daging yang sudah membusuk dan bau. Aku juga tak ingin kisah kita berakhir di sebuah peti usang bersama benda-benda antik dan kenangan yang dianggap perlu diabadikan dan akan diwariskan kepada orang lain atau yang lebih buruknya lagi bahkan akan dimusnahkan.

Aku hanya ingin kenangan itu selalu mengisi hari-hariku, memberi warna di atas kanvas hidupku, memberi rasa di setiap sajian yang berada di lidahku. Hadirmu di dalam hidupku sungguh berarti, aku dan dirimu bagai bulan dan bintang, bunga dan wanginya, hujan dan air, bumi dan langit, siang dan malam, serta tubuh dan bayangannya. Aku sungguh tak bisa lepas darimu.

Tahukah kau, sulit bagiku menerima kenyataan ini. Kenyataan bahwa kita berada di dunia yang berbeda. Kenyataan bahwa kau tak bisa lagi bersamaku. Namun, aku tak bisa memaksamu tetap bersamaku, aku tak bisa menahan dirimu tetap dalam dekapanku, aku tak bisa melakukan itu semua. Apakah itu yang membuat dirimu pergi meninggalkanku? Karena dirimu merasa aku tidak memperjuangkan hadirmu dalam cinta dan hidupku. Tidak seperti itu, aku bukan seperti dugaanmu.

Akulah perempuanmu, wanita yang selalu rindu akan hadirmu, wanita yang selalu mengisi hari-harimu, wanita yang selalu menjadi pujaanmu setelah istrimu, wanita yang selalu memberi masalah dengan keegoisanku, wanita yang terlalu takut dengan amarahmu, wanita yang selalu kau manja dengan kasih sayangmu.

Akulah perempuanmu yang selalu kau sebut pelipur laramu. Akulah perempuan yang senantiasa kau panggil Putri kesayangan.

Akulah putrimu, Ayah. Perempuanmu yang takkan pernah berhenti mencintaimu....    

You Might Also Like

0 komentar