Melihat Ke Dalam

Don't judge a book from the cover, sepertinya mesti kita ingat selalu. Pengalamanku yang satu ini sepertinya perlu dibagikan kepada semuanya.
***

Ibho dan gengnya yang selalu berpenampilan ala preman, mereka selalu bergerombolan, ribut,dan tampak kacau. Setiap orang yang melihatnya pasti langsung men-judge mereka sekumpulan pemuda berandalan, yah itulah selalu kesan orang-orang saat kutemui mereka berpapasan dengan Ibho dan gengnya. Walaupun demikian, Ibho dan gengnya tampak tidak terlalu memerdulikan komentar masyarakat di sekitar mereka.


"Semuanya tenang, jangan ada yang marah sama penduduk di sini. Kita khan bukan pencurinya jadi buat apa kita marah. Kalaupun kita dipandang sebelah mata sama penduduk di sini, biarkan saja. Bodoh amat, memangnya mereka yang kasih kita makan", ujar Farid, suatu ketika saat mereka dituduh mencuri peralatan elektronik di lingkungan mereka.

"Biarkan waktu yang menjawab teman, kebenaran pasti terungkap", lanjutnya lagi bijak. Meredakan emosi teman-temanya yang mulai kehilangan kendali. Kuakui sekalipun mereka bertampang preman tapi otot tidak selamanya menjadi jawaban atau solusi untuk menyelesaikan
masalah yang menimpa mereka.

Selain itu, mereka juga hidup dengan prinsip 'solidaritas'. Persatun, persaudaraan, dan sikap saling menghargai diantara mereka selalu terjaga, meski terkadang guyonan mereka terkesan kasar bahkan tak bermoral. Namun, itu semua justru lebih mangakrabkan persahabatan mereka.

"Yang sabar yach, hidup memang penuh dengan cobaan. Kalau tidak mau disusahkan orang atau tidak mau menghadapi rintangan, mendingan mati saja", Ujar Ibho suatu ketika saat Andra tertimpa masalah. Mungkin perkatannya terkesan 'kasar', tapi begitulah mereka menjalani kehidupannya.

Begadang, bangun saat matahari telah bersinar sangat terang, duduk di gang sambil nyanyi dengan suara yang sangat keras, jalan-jalan keliling lorong tidak mengenakan baju, balapan motor setiap malam minggu atau berbicara sambil berteriak, begitu mereka melalui hari-harinya, dan image berandalan atau parahnya lagi preman diperolehnya.

Namun, tanggapan itu sepertinya perlu ditepis. Penduduk di lingkungan kami harusnya mencoba mengenal mereka lebih dalam lagi. Tak kenal maka tak sayang, seperti itulah yang harus para masyarakat lakukan.

Bagaimana tidak, tiga hari yang lalu kudapati Ibho dan gengnya merangkul seseorang yang nampak asing di lingkungan kami. Pria yang berusia sekitar 15 tahun itu, dari raut wajahnya jelas sekali bahwa dia remaja yang *maaf* ber-IQ rendah. Pria itu hanya diam, dan ketika diajak berbincang dia hanya senyum atau menganggukkan kepalanya. Rasa penasaranku memenuhi semua rongga-rongga dan sel-sel otakku, naluri wartawanku yang sangat terpendam, seolah-olah bangkit, menuntunku menyelesaikan semua jawaban yang tergiang-giang di kepalaku.

Setelah berbincang lama dengan Boris *salah seorang dari geng itu*, dia pun menceritakan kronolgis mengapa remaja itu bisa bersama mereka, aku bahkan sempat takut kalau mereka memalak atau memukul remaja tanpa daya itu. Namun, ternyata aku salah. Mereka justru sedang membantu remaja itu.

Ibho yang sedang berkumpul bersama gengnya, tiba-tiba terusik perhatiannya oleh sosok remaja yangnampaknya sudah sekitar 1-2 jam duduk terdiam, berteduh di bangunan posyandu. Kemudian Andra menegur remaja itu, menanyakan kehadirannya, mananyakan tempat tinggalnya, dan menanyakan keadaan isi perutnya. Ternyata remaja itu tidak tau di mana tempat tinggalnya dan sedang lapar ,tapi dia tak memiliki uang sepeserpun. Andra yang orang tuanya memiliki kios sembako, lansung pulang ke rumah mengambil sebungkus mie dan sebutir telur, kemudian mereka mengajaknya ke rumahnya Ibho, agar remaja itu makan. Alang yang iba melihat remaja itu menggigil, juga pulang ke rumahnya mengambil selembar baju kaos baru dan bersih. Setelah dia makan, Ibho dan kawan-kawannya berinisiatif mencoba mengantarnya, tentunya dengan menanyakan dahulu di mana tempat tinggalnya. Remaja itu kemudian makan dengan lahapnya, setelah itu Ibho dan gengnya bertanya di mana rumahnya, remaja itu berjalan keluar meninggalkan rumahnya, Ibho segera menyusulnya, memberinya sepasang sendal, karena sedari tadi remaja itu jalan tanpa alas kaki. Setelah itu Mereka bergantian menanyakan rumahnya, namun jawabannya sungguh simpang siur, beberapa nama jalanan di kota ini disebutnya. Akhirnya mereka memutuskan akan mengantar remaja itu ke tempat untuk menunggu kendaraan angkutan kota. Mereka pun mengantar remaja itu, tiba-tiba Bu Liz datang mengahampirinya, kemudian memberi remaja itu biaya transpor.

"Simpan yah baik-baik", ujarnya.

Sudah puluhan kendaraan lalu lalang, tapi remaja itu tak mengubrisnya. Akhirnya Ibho dan kawan-kawannya meminta bantuan seorang pria yang kerjanya seharian nongkol di tempat itu agar membantu remaja ini mencari kendaraan.


***

Lantas masihkah kita menghakimi seseorang atau mengklaim image seseorang hanya dari penampilan luarnya saja?

You Might Also Like

0 komentar