Suratku, Lagi dan Lagi


 Selamat ultah yah Bapak...

Saya jadi ingat waktu dulu Bapak ultah, seminggu sebelumnya saya pasti sudah sibuk bertanya ke Mama hadiah yang akan saya berikan untuk Bapak. Hadiahnya beragam mulai dari hal-hal kecil yang membuat saya tersenyum geli saat ini.

Saat ini ingin sekali saya menyanyikan lagu ‘selamat ulang tahun’ untuk Bapak, meski dengan suara yang tidak cukup merdu, yang penting khan ketulusan saya untuk menyanyi *ngeles*, hehehe.

Bapak apa kabarnya di sana? Apa berat badan Bapak terus bertambah? Ahhh, sebaiknya jangan karena perut Bapak nanti tambah buncit, tapi saya yakin Mama pasti selalu memperhatikan segala kebutuhan  Bapak. Mulai dari mengatur jadwal makan, mengatur jenis makanannya, kadar makanannya, menyediakan pakaian, dan banyak lagi. Yah itulah Mama, wanita yang penuh cinta, wanita pengasih yang hidup dengan Bapak, saya, dan Ibo.

Tahun ini saya tidak tahu harus memberi hadiah apa untuk Bapak, soalnya Bapak sudah tidak tinggal bersama saya dan Ibo lagi.  Saya yakin Mama pasti akan memberikan hadiah untuk Bapak, jadi saya ngikut dihadiah Mama ya Pak *itung-itung ngirit*, hehehe. Tapi Bapak jangan khawatir, tahun ini pasti akan tiba hadiah di sana untuk Bapak, mungkin tidak sekarang, mungkin tidak dalam waktu dekat ini, asal Bapak mau bersabar.

Oh iya Pak, buku-buku yang Bapak berikan padaku belum semuanya saya baca, habis sekarang sudah tidak ada lagi yang mau ditemani saya sharing. Jadi ingat waktu dulu Bapak pertama kali memberikan saya sebuah buku, setelah tahu kalau bukunya sudah selesai saya baca, Bapak pasti minta saya me-review ulang bukunya, padahal waktu itu saya belum terbiasa untuk mengutarakan apa pun isi hati dan otak saya, selanjutnya buku demi buku terus Bapak berikan dan pembicaran demi pembicaraan pun terus terjadi. Sungguh saya merindu peristiwa itu lagi.

Pak, saya juga rindu senyuman lebar Bapak. Tolong tersenyumlah untuk saya saat ini, saya sungguh-sungguh merindukannya. Saya rindu senyuman dan keceriaan yang selalu Bapak hadirkan setiap harinya di kala kita bersama dulu. Hal itu selalu memberi warna tersendiri dalam hidup saya. Oh iya Pak, kalau dulu saya selalu menghapus bekas setiap kecupan Bapak lalu saya akan cemberut karena tidak menyukainya, entah mengapa sekarang saya merindukan kecupan itu. Tertitip sebuah kecupan untuk Bapak.

Saya yakin Bapak dan Mama baik di sana. Saya dan Ibo juga baik di sini, Bapak dan Mama tidak perlu mengkhawatirkan kami berdua. Kami selalu membutuhkan doa untuk setiap yang kami lakukan, kami selalu merindu keridhaan Bapak dan Mama pada setiap derap langkah kami, dan kami selalu merindu setiap nasehat yang akhirnya membuat kami lebih waspada dan tak jarang bijaksana menjalani kehidupan ini.

Hmmm, kami sungguh merindu kehadiran Bapak dan Mama di sini, di dekat kami, di hadapan kami, dan akan selalu berada di hati kami.

Sekali lagi selamat ultah ya Pak.    
Tertitip salam sayang dan cinta saya untuk Mama.
With love to both of you, semoga saya dan Ibo selalu menjadi menjadi buah hati kebanggan kalian.

Makassar, 28 Oktober 2010

You Might Also Like

0 komentar