Rona Indah Yang Tertinggal Di Pelataran

Hari ini adalah hari kedua ujian seleksi penerimaan mahasiswa baru di kampus itu. Setelah selesai berkutat mengutak-atik semua isi memori otakku, mengumpulkan semua informasi yang pernah menetap dan tinggal, agar bias menjawab soal-soal tersebut, kuputuskan untuk segera pulang ke rumah mengistirahatkan tubuh dan otakku yang sudah sangat lelah.

Namun, ketika aku beranjak meninggalkan ruangan test menuju pintu gerbang universitas yang berjarak sekitar 50 meter langkahku terhenti, bukan, bukan karena kepalaku tiba-tiba nyut-nyut tidak karuan karena telah bekerja keras menjawab soal-soal itu, bukan juga karena perutku yang sedang demontrasi karena belum diberi keadilan ‘sarapan pagi’, tapi ada peristiwa yang mengundangku untuk melihatnya meski hanya sekilas.


Tertarik dengan keadaan yang begitu baru bagiku dengan status sosial yang tidak pasti mengingat aku bukan lagi seorang siswi SMA dan belum juga terdaftar sebagai seorang mahasiswi, naluri penasaranku bangkit, dengan segera kulangkahkan kakiku menuju kerumunan itu, selanjutnya kudapati diriku telah berada dalam kerumunan itu, ya menjadi salah satu bagian dari mereka, sayangnya hanya sebagai unsur pelengkap saja.

Semuanya tenang, hanya kelompok itu yang memecahkan keheningan alam dengan irama rintihan kegundahan mereka, bagi mereka ketika terjadi ketidaksesuaian antara alam ide dan realita, maka spontanitas merespon peristiwa itu terjadi begitu saja.
Terdengar riuh beberapa orang mahasiswa bersorak di pelataran gedung kokoh berwarna putih nan menjulang tinggi tempat kelompok itu menggelar aksinya. Sebuah rutinitas ketika gelar mahasiswa telah berada dalam genggamannya, mengkritik semua realita yang mereka hadapi. Dengan berbagai alasan, entah karena panggilan hati nurani atau panggilan lembaran rupiah, entahlah aku tidak cukup bijak menilai aksi mereka dan juga aku belum punya alibi yang kuat untuk menghakimi perbuatan mereka.

Tentunya pengalaman ini pengalaman pertamaku menyaksikan secara langsung tanpa ada batas ruang dan waktu, begitu nyata dan begitu dekat, melihat aksi demonstrasi. Dengan cekatan kujelajajahi setiap lekuk orang – orang di sekitarku, apalagi dengan kelompok itu, kelompok berbalut warna duka, sorotan mataku memandang mereka begitu detil, seolah – olah hampir menelanjangi seluruh tubuh mereka yang masih tertutup rapi oleh pakaian yang mereka pakai, tak ada satupun bagian yang terlewati dari pandanganku seperti ingin mengumpulkan semua informasi tentang mereka.

Setelah puas memenuhi rasa penasaran jiwaku, lalu kulemparkan pandanganku di setiap sudut wilayah itu, sebuah universitas yang akan menjadi almamaterku kelak, universitas yang akan mempertemukanku dengan banyak hal, mulai dengan sahabat – sahabat baru, orang – orang yang mungkin akan begitu berarti bagiku dan mungkin pula aku akan menemukan banyak hal yang mampu menenangkanku dari semua kegundahan jiwaku.

Masih berada dalam kerumunan orang – orang yang dari tadi tanpa bosan mendengar aspirasi kelompok berbalut warna duka yang begitu semangat, begitu membara, aku mencoba mencari tempat berteduh dari panas sengatan matahari. Karena aku sudah mendapat posisi yang menurutku strategis, aku masih saja tetap fokus melihat aksi kelompok berbalut warna duka itu. Karena menganggap itu sesuatu yang baru, maka tak ada satu hal pun yang akan terlewatkan bagiku.

“Mengapa mesti ada diskriminasi dalam pendidikan, hanya gara – gara calon mahasiswa baru yang mengikuti test masuk universitas tidak berpakaian “rapi dan sopan”, mestinya tidak ada hal yang membatasi ketika seseorang berjuang memenuhi hasrat pengetahuannya”.

Begitulah garis merah yang bisa kutarik dari aksi kelompok berbalut warna duka itu, pada waktu itu aku dengan cepat menyetujuinya, bahwa dalam dunia pendidikan tidak boleh ada yang namanya batasan, diskriminasi atau apalah. Namun, sesaat kemudian sepertinya ada hal yang perlu dikritiki tentang statement mereka.

“Tetapi bukankah semakin berpendidikan seseorang mestinya dia akan lebih mengetahui sopan-santun, lebih beretika dan beradab. Bukankah sekolah atau lembaga pendidikan yang ada mempunyai visi yang tidak hanya membuat murid atau mahasiswanya menjadi cerdas tetapi juga beradab.

” Gumanku merespon reaksi mereka, sekalipun hal ini hanya sebatas perdebatan nuraniku.

“Bukannya mencoba untuk mendiskriminasikan mereka-mereka yang tidak berpakaian rapi dan sopan. Tetapi teguran itu sepantasnya dilakukan agar seseorang dapat membedakan pakaian apa yang mereka gunakan dan untuk kegiatan apa. Seseorang wanita misalnya tidak mungkin menggunakan high hells untuk berolahraga. Sama halnya dengan para peserta yang ingin mengikuti test atau ujian selayaknya mengenakan pakaian yang rapi dan sopan. Bukankah rapi dan sopan adalah bagian dari keindahan? Bukankah semua orang menyukai keindahan? Bukankah pula ajaran agama kita mengajarkan demikian? Bukankah ini juga upaya kita dalam berbuat adil pada tubuh dan keadaan sekitar?” sekelumit pertanyaan terus-menerus muncul hingga memenuhi sel-sel otakku yang begitu sempit akibat terik mentari.

Sesaat kemudian satu demi satu orang meninggalkan tempat itu, pertanda aksi itu sudah selesai, disertai dengan itu para komunitas hitam itu kini bersatu dengan keheningan alam. Betul – betul hening. Semua pergi dengan berbagai ekspresi, ada yang cuek, ada yang tersenyum entah dengan alasan apa, ada pula yang hanya diam tanpa respon, bisu.

“Ternyata kelompok berbalut warna duka itu bisa juga diam” gumanku dalam hati.

“Sudah capek berceloteh atau…, ah lupakan saja toch semua telah berakhir” gumanku mengakhiri perdebatan bathinku.Merasa puas dengan semuanya, kupaksa kakiku yang sudah letih untuk meninggalkan tempat itu, bersama dengan itu pandanganku masih tetap tertuju ke kelompok berbalut warna duka itu.

“Apakah pihak universitas akan merespon aksi mereka? Kalau iya, apa untungnya jika pihak universitas bereaksi dengan demonstrasi itu? Apa yang mereka harapkan dari aksi tadi? Atau aksi itu tidak perlu direspon bahkan mereka tidak menginginkannya, mereka hanya mengeluarkan penat di hati” pikirku, kali ini mereka betul-betul meneror sel-sel otakku.

Pulang ke rumah, sepertinya itulah yang sedari tadi ingin kulakukan. Akupun berjalan selangkah demi langkah meninggalkan kampus baruku itu. Namun pandangan mataku dengan segera terhenti dengan spontan pada sesosok pria yang mengapa bagiku dia tampak begitu berbeda dari pria – pria yang berada mengelilinginya.

“Dia punya aura yang begitu memukau” puji bathinku. Laksana mutiara di padang pasir, engkau begitu tampak.Tiba-tiba sebuah lukisan senyuman nan indah menghiasi figura wajahnya.

“Senyuman yang indah” puji bathinku lagi.Langkahku kini sontak berhenti, entah mengapa.

“Akankah aku akan bertemu dengan dirimu lagi?” tanyaku pada garis nasib hidupku.Selanjutnya pria jangkung nan hitam manis itu setiap saat selalu mencuri perhatianku, dia memiliki rahang uerignatik yang tegas di paras timur tengahnya. Sesosok pria yang kharismatik, sosok yang selanjutnya mengganggu ketentraman hatiku. Bayangannya terus mengganggu, setiap saat. Bahkan di saat kuterlena di alam bawah sadarku, berkutat dengan asa dan impian dalam wujud mimpi.

***

Dalam kehampaan kehidupan ini, kau hadir memberi warna pada diriku....
Kau melukis kisahmu pada kanvas hidupku dengan kuas cintaku
Meski di selanjutnya kesemuan dan kemustahilan mendapatkan dirimu
Namun, cukuplah sudah jika aku mencintaimu tanpa kau ketahui bahkan tanpa balasan darimu Kubiarkan kenangan tentangmu selalu berada dalam diary hatiku yang pernah kutulis dengan pena auramu.

You Might Also Like

0 komentar