Kontemplasi Di Ruang Hati

Belum juga bangsa ini menyatukan puing-puing ketegarannya atas semua cobaan yang memilukan semua raga rakyatnya, berlanjut lagi kegalauan menampar keras meninggalkan tapak merah bekas kesedihannya. Kini wajah-wajah sarasehan bangsa merah putih ini bak lukisan bendera putih yang berhias gegana hitam. Lukisan kedukaan bangsa yangtiada henti-hentinya diberi eksamen.

***

Ketika kusempatkan diriku merenungi semua peristiwa-peristiwa kelam yang kini menjadi sebuah cerita yang tiada berakhiryang menimpa bangsaku, sosok malaikat kematian yang sibuk mengabsen nama calon-calon pengikutnya membayangi setiap sudut mataku.

Di setiap kedipan mataku, silih berganti drama kedukaan bum pertiwi ini antrian ingin memperlihatkan kekelamanya padaku.

"Tuhan, apa salah insan bumi khatulistiwa ini pada-Mu?".

"Apa maksud dari semua ini?", lanjutku, pertanyaan kedua ini mengalir pasti, seperti aliran air mata di kedua sudut figura mataku.

"Kenapa mesti butala pertiwi ini?".

"Kenapa", rangkain pertanyaan itu terus-menerus berteriak di sudut hatiku. Teriakan-teriakan itu mengiris-iris tajam hati insan yang galau ini.

"Tiada sesuatu yang terjadi tanpa alasan yang mutlak, semua ini hanya aplikasi hukum kausalitas", senada suara yang begitu bijaksana mencoba menenangkan suara teriakan itu.

"Tapi kenapa mesti semua ini terjadi", teriakan itu seolah menyuarakan jerit hati para insan yang galau atas semuaaksamen Sang Pencipta pada bumi khatulistiwa ini.

"Semua ini sebab dari setiap perilaku kita", jawab suara itu singkat.

"Sebab?".

"Memangnya apa yang telah bangsa ini perbuat hingga harus menanggung akibat sepilu ini? Apa?" , teriakan itu lantang menanyakan kesalahan para insan bangsa ini. Alasan apa yang tepat hingga bangsa ini harus menanggung dukayang tak berkesudahan ini.

"Merenunglah, suatu saat engkau akan tahu sebab terjadi cobaan ini", jawab suara itu.

"Merenungkannya?", teriakan itu bersorak dengan lantang.

"Apa dengan merenung semua cobaan ini akan berakhir?", lanjut teriakan itu. Kini teriakan itu semakin pilu memberontak atas semua ini.

"Merenunglah duhai sukma yang angkuh !! Merenunglah wahai jiwa yang egois !! Renungkanlah dengan hati tertunduk pada-Nya Berdialoglah pada Sang Maha Tahu nan Adil itu atas semua ketidakadilan yang engkau rasakan, serta tanyakan pada atma egois nan bahtar dalam dirimu yang tahunya hanya mengeluh di kala susah dan bersikap anonim untuk keuntungan diri sendiri", jawab suara itu mangajak sang teriakan agar lebih tunduk lagi pada-Nya.

Mendengar jawaban Sang Suara Suci itu, teriakan itu tercengang, lalu kudapati pada kedua belah pipiku sungai-sungaiair mata kian deras membasahinya. Sang teriakan terdiam, kini dia telah terlena oleh buaian renungan, teriaka ituterus-menerus menganalisa dialognya dengan Sang Suara Suci.

Suara Suci itu berhasil mendamaikan kegalauan sang teriakan, bahkan suara itu dengan pasti menjawab semua pertanyannya.

***

"Suara itu suara suci hati kita Suara itu suara syurgawi Sang Pengasih Suara itu mengajarkan pada semuanya, agar kita janga hanya tahu 'kenapa hal ini harus menimpaku?' melainkan 'mengapa peristiwa ini menimpaku'"

You Might Also Like

0 komentar