Gadis Hujan

Hujan selalu membasahi tubuhnya, mengalir menjelajahi kepalanya, berseluncur pada setiap helai rambut panjangnya yang terurai indah. Wajahnya selalu dia tengadahkan ke atas sambil memejamkan kedua matanya, mencoba merasakan setiap titik-titik air hujan yang turun menyentuh wajah ayunya.

Entah mengapa, hanya di saat hujan saja orang dapat melihatnya, melihatnya berkomunikasi dengan hujan, melihatnya tersenyum ceria sendiri, melihatnya menangis tersedu-sedu tanpa ada yang tahu penyebabnya.


Gadis itu takkan pernah ditemui lagi ketika hujan reda. Seolah hujanlah kekasih yang selalu dinantinya, dan musim penghujan adalah obat kerinduan baginya. Tak pernah seorang pun yang menyapanya, semua tampak diam, hanya menikmati aksi gadis itu. Ketika gadis itu tersenyum, orang-orang pun ikut tersenyum, begitu pula jika dia menangis, tiba-tiba orang-orang pun tampak kalut. Aku juga tak tahu mengapa, tak tahu mengapa gadis itu bisa seperti itu, tak tahu mengapa tak seorang pun yang mau berbicara dengannya, tak tahu mengapa orang asyik melihatnya dan terbawa suasana dengan sikap gadis itu.

Mungkin, hanya gadis itu dan hujan yang tahu.

You Might Also Like

0 komentar