Cinta Berbatas Usia

"Buah Nangka Buah kedondong, siapa sangka Rizha dapat berondong," ledek Reza sambil ketawa kecil, yang diejek langsung cemberut.

"Udah Reza, berhenti ledekin Rizha, kasian tuh wajahnya udah ditekuk 8 lipatan, kusut lagi," bela Rianti.

"Tau nih sirik amat, amat aja tidak sampe sirik kaya gitu juga," Rizha mulai berkomentar.

"Abis sejarah percintaanmu kali ini sangat lucu. Udah dijodohin, ternyata dapatnya berondong pula.Apa pesonamu udah habis dimakan usia, secara umur loe khan udah kepala 3, alias 35 tahun, udah diambang masa krisis buat nikah," Reza meledek lagi, seketika tangan Rizha sudah berada di pinggal Reza, kemudian mencubitnya.

"Aduh, sakit tau. Gila yah nyubit nggak kira-kira," ujar Reza sambil mengelus pinggang, betul-betul sakit cubitan cewek cantik itu.

"Kira-kira? Loe tuh yang harusnya kira-kira kalo ledekin orang. Lagian, please dong, jangan bawa-bawa umur. Mentang-mentang udah nikah, pilihan sendiri lagi," balas Rizha merenungi nasibnya.

"Lho Zha, kamu kok seperti menyesali keputusan orang tuamu sich?" tanya Rianti.

"Bagaimana tidak kalian berdua menikah dengan pilihan kalian dengan sosok yang kalian kenali. Sedangkan aku? Secara sekarang bukan zaman Siti Nurbaya lagi, tapi Siti Maesaroh," Jawab Rizha sebel.

"Aduh jangan marah dong neng, entar tuanya kelihatan tuh," Reza masih saja mengganggu sahabatnya itu.

"Au ah, gelap," jawab Rizha singkat.

"Neng, lagi gangguan mata yach? Wong matahari bersinar lagi cerah-cerahnya," ujar Reza ngeles.

"Reza...," teriak Rizha, lalu mencubit Reza lagi.

"Aduh, udah dong Zha. Entar kalo istriku lihat dikirain aku mau poligami ma elu. Idih amit-amit jabang bayi deh. Gue ogah nikah ma cewek cantik yang hobi nyubit, menderita tau," ujar Reza.

"Idih, siapa juga mau nikah ma cowok jahil kayak loe, apalagi jadi istri kedua. Kayak nggak ada cowok laen aja di dunia," ujar Rizha.

"Ehm..ehm, nyindir gue nih Zha," ujar Rianti dengan nada sedikit kesal dengan perkataan Rizha barusan, padahal Rizha tak bermaksud menyinggung perasaan sahabatnya yang satu itu.

"Nggak. Bukan itu maksudnya. Gue nggak lagi ngebahas loe, apalagi ngeledekin posisi loe sebagai istri kedua Pak Gunawan. Itu khan pilihan loe, lagian Pak Gunawan sepertinya mampu berbuat adil ma loe dan Mbak Karin," ujar Rizha mencoba menenangkan suasana, bagi Rizha, Rianti sosok cewek yang super sensitif, salah berkata atau bertingkah saja, bisa mengacaukan segalanya.

"Kirain," respon Rianti, kemudian meminum jus melon kesukaannya itu.

"Zha, loe yakin berondong loe bakal datang?" tanya Reza cuek, tangan Rizha sekali lagi mendarat di pinggang cowok berbadan seksi itu.

"Ampun Zha, sorry salah ngomong," ralat Reza.

"Yakin sih enggak, bahkan gue berharap kalo dia kagak bakalan datang. Gue doain dia sakit perut terus pengen buang air besar selama seharian atau saat lagi mangap ngirup udara, tiba-tiba ada lalat masuk ke tenggorokan dia terus, dia bakal kesakitan dan susah untuk bernapas, terus dilariin ke rumah sakit. He..he..," ujar Rizha penuh harapan.

Reza dan Rianti malah tertawa mendengar ucapan sahabatnya yang mulai rada stress menghadapi hidupnya.

"Kenapa kalian ketawa, emang ada yang lucu?" tanya Rizha, bloon.

"Loe nggak sadar ma ucapan loe barusan, asli gokil banget. Doain orang nggak datang gak segitunya kali Zha. Jahat lho doain yang aneh-aneh," ujar Reza, masih terus tertawa.

"Iya nih, aduh neng, nggak segitunya kali. Emang loe udah pernah ketemu ma cowok itu?" tanya Rianti.

"Belon," jawab Rizha singkat.

"Tapi loe tahukan namanya?" tanya Rinanti lagi.

"Kata Nyokap sih, namanya Farel," jawab Rizha, mencoba mengingat nama pria yang nantinya akan menemani hidupnya.

"Biar tahu namanya kalo nggak pernah ngeliat mana bisa kita tau kalo itu Farel," ujar Reza mencoba mengingatkan Rianti dan Rizha.

"Hari ini dia datang pake baju hitam dan celana jeans dengan warna senada. Dia bakalan datang lagi," jawab Rizha yakin. Yakin? Perasaan apa yang tiba-tiba merasukinya, Rizha seketika yakin Farel akan datang di tempat itu, ketemu saja tidak, mengapa Rizha sekarang yakin.

"Yakin banget loe Za, uda mulai ada rasa nih ma si Farel?" goda Rianti, kali ini bukan Reza lagi, bahkan kedua sahabatnya itu sekarang kompakan mengganggunya.

"Siapa yang yakin?," Rizha mencoba ngeles. Kali ini tiba-tiba dia terdiam, apa karena usianya yang membuat dia yakin Farel akan datang, yakin atau hanya meyakinkan diri. Rizha galau.

"Gue permisi ke toilet dulu yah," ujar Rizha, belum sempat Rizha pergi meninggalkan kursinya, tangan Rianti meraihnya.

"Loe marah yah Zha? Sorry deh, gue nggak bermaksud seperti itu kok," ujar Rianti dengan nada khawatir.

Rizha tersenyum, "Nggak, bukan karena itu kok, sumpah".

"Loe yakin Zha nggak papa dengan ucapan Rianti?" tanya Reza mencari kejujuran dari sikap Rizha.

"Iya nggak papa, gue udah kebelet nih," ujar Rizha, mencoba mengalihkan pembicaraan.

"Gue temani yah Zha," ajak Rianti.

"Iya," jawab Rizha, mereka berdua lantas meninggalkan Reza sendiri duduk di kedai kopi favorit mereka. 

Mereka bertiga bersahabat sejak SMA, sudah cukup lama memang. Mengingat usia mereka rata-rata kepala 3. Awal pertemuan mereka hingga menjadi sahabat di kedai ini, bahkan moccacino, menupilihan favorit mereka. Hobby mereka juga sama. Bahkan tanpa diduga, orang tua mereka bertigajuga bersahabatan, hal ini mereka ketahui saat orang tua mereka reunian. Mereka bertiga sangat terkejut saat tahu bahwa orang tua mereka saling mengenal, dunia memang sempit yang jeng, ujar Ibu Reza pada Mama Rizha dan Mama Rianti.

Reuni itu menyatukan kenangan masa lalu orang tua mereka, bagaimana tidak pekerjaan dan status pernikahan yang memisahkan mereka, keluarga Reza berdomisili di Padang, Rizha di Makassar, hanya Rianti yang tetap berdomisili di Bandung. Sungguh persahabatan yang abadi. Ternyata tidak hanya gen yang bisa diturunkan tapi juga persahabatan.

"Zha, lho kok nangis sich," uar Rianti khawatir.

"Gue galau Ti, entah mengapa gue tadi sangat yakin akan kedatangan Farel, tepatnya gue sangat berharap dia bakal datang. Apa ini karena usia gue yang udah nggak muda lagi, udah umur 35 taontapi masih single. Belum lagi calon gua umurnya lebih mudah delapan taon dari gue, gue takut kalo entar kalo gue udah tambah tua, tepatnya lagi saat gue bener-bener cinta ma dia, terus di saat itu dia malah sibuk cari cewek seusia atau lebih muda dari dia dan parahnya bakal ninggalin gue. Gue nggak mau itu semua terjadi. Kalo masalah perjodohan sih gue udah pasrah, mungkin ini satu-satunya jalan ortu gue buat cepat dapet menantu buat gue," jawab Rizha lirih, air mata kini membasahi kedua pipi putih dan mulusnya.Rianti memberi beberapa lembar tissue.

"Aduh neng jangan nangis dong, entar ornag kira gueapa-apain loe, khan bahaya," goda Rianti mencoba membuat sahabatnya tersenyum sembari tangan kirinya mengirim pesan darurat buat Reza.

Reza, loe cepetan ke taman dpn toilet cewek yah, Zha lg nangis nih.

Iya, gue ke sana skarang.

Seketika pria satu-satunya dalam lingkaran persahabatan mereka itu datang menghampiri wanitanya.Diluar sangkaan Reza, Rizha yang melihat kedatangan sahabatnya itu, lalu berlari kecil memeluknya.

"Loe kenapa Zha?" tanya Reza gagap. Entah mengapa tiba-tiba ada perasaan sedih juga menghampirihati Reza diam-diam.

"Kita cari tempat duduk yah Zha, orang-orang liatin kita nih. Gue rada risih," ujar Reza.Tiba-tiba Rizha melepas dekapannya.

"Risih, kenapa loe risih dipeluk perawan berusia 35 taon ya Reza," teriak Rizha memecahkan keheningan kedai kopi yang sangat tenang itu, kini hampir semua mata tertuju pada mereka bertiga.

"Loe tenang yah Zha. Gue nggak bermaksud kayak gitu. Loe tenang yah," bujuk Reza.

"Nggak usah cari alasan deh," ucap Rizha kecewa dan marah.

"Zha, tenang yah. Ini tempat umum, loe jangan teriak kayak gitu. Nggak malu diliatin orang, orang-orang bisa tau apa yang loe alami selama ini, mau loe?" ujar Rianti yang terkesan tega.

Rizha hanya diam, kemudian mengikuti arahan Reza duduk di bangku taman itu."Loe kenap Zha?" tanya Reza prihatin.

"Gue galau, apa masih ada yang mau sama perawan tiga puluh lima tahun ini," ujar Rizha.

"Kalo kamu mau, aku bersedia nikah sama kamu," ujar pria berahang eurignatik itu, tiba-tiba memecahkan kegalaun Rizha dan sahabatnya.

"Anda siapa?" tanya Reza sopan, tidak memakai aksen loe-gue-nya. Pria itu lantas mengulurkan tangannya.

"Saya Farel Aditya, calon suami Rizha. Itupun kalau Zha-nya bersedia," ujar Farel memperkenalkan dirinya.

"O... jadi kamu yang bernama Farel," ujar Reza takjub melihat Farel. Tampilan Farel tidak seperti orang yang berusia 27 tahun, penampilannya begitu dewasa dari usianya. Tampan, tinggi, punya sosot mata yang tajam, dan to the point, pria yang tepat, aku Reza.

"Gimana tawaranku yang barusan?" tanya Farel lagi. Rizha yang sedari tadi hanya diam dan menangis, lalu berkata "Loe nggak lagi sakitkan, gue bukan cewek yang tepat buat lho. Gue udah terlalu tua".

"Tapi aku cinta ma kamu," ucap Farel sopan, tapi Rizha tetap saja berbicara dengan aksen loe-gue-nya.

"Apa yang loe harapin dari cewek kayak gue?" tanya Rizha, Reza dan Rianti sadar, kalo Rizha cewek paling jutek, mereka berdua lalu memisahkan Rizha dan Farel, takut Rizha tiba-tiba berkata yang tidak-tidak atau berkelakuan aneh. Rizha tetap di taman bersama Rianti dan Reza mengajak Farel masuk ke kedai kopi dan duduk di tempat mereka semula.

"Zha, eling. Zha," ujar Rianti sembari memberikan segelas air mineral untuk Rizha.

"Gila apa tu cowok. Apa ortu gue ngerasa, gue uda nggak laku sampe mau dikasih ma berondong itu,"ujar Rizha lirih. Belum sempat Rianti menjawab pernyataan Rizha, handphone Rizha berdering. Lagu Let's get the beatnya Dirly Idol menggema dari speaker handphone Rizha. Nama Mamanya tampil di monitor handphonenya.

"Ada apa Ma," ujar Rizha membuka percakapannya dengan sang bunda.

"Zha, Farel udah tiba di sana khan?" tanya bunda.

"Udah," jawab Rizha singkat.

"Gimana orang cocok ma kamu khan, sayang?" tanya bunda di seberang sana.

"Mama yakin pria berusia 27 taon itu mau menikah ma cewek tua, berusia 32 taon ini?" tanya Rizhamencoba mencari pembenaran, apa benar masih ada berondong sudi memperistrikan dirinya.

"Sayang, Farel itu anaknya baik. Dia anak sahabat Papa",

"Bukan itu yang Rizha tanyakan Ma", potong Rizha, dalam beberapa saat kedua wanita itu hanyadiam, di seberang sana serang bunda merasa sedih mendengar perkataan anak gadisnya itu, segitukah ketidakpercayaan Rizha terhadap cinta, cinta tak pernah mengenal waktu dan tempat, tak mengenal ras dan suku bangsa, juga tak mengenal umur dan selisih usia, sedangkan anakgadisnya tetap saja sedih, bingung dan menungggu jawaban ibunya.

"Cobalah buka hatimu, sayang. Mama yakin Farel pria yang tepat untukmu," ujar bundanya.

"Mama juga yakin sewaktu Mama menikah dengan Papa yang usianya lebih tua enam taon dari Mama. Mama juga yakin sewaktu bercerai dengan Papa? Apa Rizha mesti harus yakin lagi dengan perkataan Mama, yang Mama sendiri nggak bisa pertanggungjawabkan?" tanya Rizha membuat suara wanita di seberang sana tak bergema untuk sesaat.

"Zha, udah dong. Kamu sekarang lagi bicara ma Mama kamu," tegur Rianti, kemudian mengambil handphone Rizha,

"Bu, ini Rianti. Maafkan perbuatan Zha yah Bu. Biar nanti kami yang urus, Ibu tenang saja. Selamat sore Bu," ujar Rianti menenangkan percekcokan kedua wanita itu.

"Gue..," belum selesai Rizha berbicara, tiba-tiba tangan Reza memegang tangannya dan menarik Rizha menuju ke dalam kedai kopi, entah apa yang telah Farel bicarakan dengan Reza, sampai sahabatnya itu tega menariknya bertemu dengan pria itu, bahkan tidak mengubris penolakan Rizha.

Kini Rizha telah duduk di hadapan Farel, mereka hanya berdua saja. Rianti dan Reza mengambil posisi duduk tepat di belakang meja mereka. Satu menit, dua menit, kini bahkan sudah hitungan menit ke-lima belas, Rizha dan Farel masih diam membisu. Rizha diam merenungi keadaannya, Farel diam memilih kata yang tepat untuk memulai pembicaraan dengan wanita berkondisi galau di depannya itu. Tiba-tiba Rizha berdiri, mengambil tasnya, berbenah segera ingin meninggalkan tempat itu, tiba-tiba tangan Farel menggenggam tangannya.

"Zha, jangan pulang yah," ujar Farel, Rizha hanya terdiam, kemudian melepaskan genggaman tangan Farel tapi tetap membenahi semua tasnya, memasukkan laptotnya, buku agenda meetingnya, dan alat tulis-menulisnya.

"Ok, kalo kamu mau pulang biar aku yang antar, gimana?" tawar Farel.

"Tidak, terima kasih Tuan Farel," tolaknya. Rizha kemudian berlari meninggalkannya, bahkan tanpa berpamitan pada dua sahabatnya itu. Farel hanya tersenyum pada Rianti dan Reza, pertanda pamit, duluan meninggalkan mereka berdua. Kemudian berlari mengejar Rizha.

You Might Also Like

0 komentar