Aku Dan Isi Kepalaku

Sudah sangat lama ku memikirkannya, tapi belum jua kutemukan jawaban untuknya.
Sekuat bagaimanapun aku memikirkannya, tetap saja belum kudapatkan jawaban.
Sudah kukerahkan seluruh jaringan-jaringan sel otakku yang kian lama semakin erat hubungannya antar satu akson dengan dendrit yang lainnya.
Namun, tak jua kutemukan jawabannya.


Bahkan teori-teori keberadaan yang memenuhi setiap inchi otakku seakan terusik keberadaannya.
Sekalipun terbilang muda, dia tidak sungkan dengan semua yang sudah lama bercokol di benakku.

Kini dia tak hanya menggandakan dirinya bagai virus yang menyesakkan otakku, dia sudah menjalar bak penyakit kronis stadium 4 yang sedang menggerogoti panca inderaku.

Dimanapun aku memandang yang kudapati hanya sosoknya yang riang gembira, pertanda dia senang karena berhasil mempermainkan penglihatanku.
Apapun yang kudengar hanyalah suaranya yang selalu tergiang-giang di telingaku.
Dia tak segan-segan menyentuh seluruh tubuhku, bahkan tak satu senti pun yang tak dijamahnya.
Entah mengapa apapun yang lidahku rasakan hanyalah dia.
Dia selalu menari-nari di atas lidahku, memberi sensasi rasa yang selalu mengingatkanku bahwa ini adalah rasanya.
Tak pelak aromanya menyelundup masuk ke lubang hidungku bersamaan dengan oksigen yang aku hirup.

Dia betul-betul menghantuiku...
Padahal dia hanyalah sebuah pertanyaan
Pertanyaan yang membuatku tak henti-hentinya berpikir.
"Kapan aku bisa berhenti berpikir?"

You Might Also Like

0 komentar